Arsip untuk ‘Jelajah Geotrek (5)–Kawah Baru–Gunung Papandayan’ Kategori

Articles

Publikasi di Facebook

In Jelajah Geotrek (5)--Kawah Baru--Gunung Papandayan on April 26, 2011 oleh keluargamatabumiindonesia

Dalam siaran persnya, Matabumi kembali akan menyelenggarakan Jelajah Geotrek ke Gunung Papandayan di Garut. Kemungkinan pada hari Sabtu, 23 April 2011. Jalannya relatif datar, berbatu, namun panas. Informasi: Matabumi: 0856 2478 4548.

***

Prof. Dr. J.A. Katili (alm) memberikan penghargaan kepada para pengamat gunungapi ini sebagai Pasukan Berani Mati. Tentu, sesungguhnya mereka adalah orang2 yang berani hidup, sebab dalam setiap tugasnya ada prosedur yang harus mereka patuhi. Untuk mengetahui peningkatan suhu, misalnya, mereka harus menembus hembusan gas yang pekat belerang yang memedihkan mata, dan bisa membuat badan menjadi lemas. Namun itu semua demi keselamatan lebih banyak lagi warga yang sudah terlanjur mendiami kawasan rawan bencana gunungapi. Foto: petugas sedang mengukur suhu Kawah Emas di Gunung Papandayan, Minggu (20/3/2011). Tgl 23 April, bagi yang berminat, kita akan mengunjungi Kawah baru, kawah Emas, Kawah Manuk di Gunung Papandayan. Interpreter: Budi Brahmantyo, T. Bachtiar dan dari Badan Geologi. Informasi Matabumi: 085624784548.

***

Gunung Papandayan, Garut, disketsa dari tempat parkir, ke arah barat daya, saat Ekskursi Mata Kuliah Geowisata 2009. Sabtu 23 April 2011 insya Allah bergeotrek kembali ke tempat ini dg EO Matabumi. Sketsa lebih dekat Kawah Baru (semburan asap sblh kiri) dapat dicari di koleksi album sketsa ini (klik mundur 5 kali).

***

Suara itu bergemuruh mendesis seperti pesawat jet. Asap putih dari dapur Bumi mengepul cepat memulas langit. Belerang kuning seperti arumanis menempel di pinggir lubang. Kuning emas di mana-mana. Inikah asal-usul kawah di Gunung Papandayan ini disebut Kawah Emas? Tanggal 23 April, bersama Matabumi kita akan ke sana. Foto: pa MOMON, Pengamat Gunung Papandayan sedang menjelaskan nama-nama kawah di gunung itu. Informasi Matabumi: 085624784548.

***

Bujangga Manik, ksatria pengelana dari Kerajaan Sunda, pernah mendaki Gunung Papandayan dalam kondisi gunung ini masih kerucut penuh, tidak seperti setelah ledakkan tahun 1772 yang membentuk tapalkuda ke arah timurlaut. Bujangga Manik menulis dalam catatan daun lontarnya: “…. Mendaki ke Papandayan// yang biasa disebut Panenjoan// dari situ kuamati gunung-gunung// disebut satu persatu di antara semuanya// yang terlihat kecil dan jauh// sesuai daya pandang Nusia Larang. … (J. Noorduyn dan A. Teeuw). Sabtu, 23 April akan melacak jejak Bujangga Manik ke Gunung Papandayan. Foto: Matabumi di Kawah baru Gn Papandayan. Untuk informasi hubungi Matabumi: 085624784548

***

TERBUKA UNTUK UMUM: Sabtu, 23 April 2011, Matabumi akan mengadakan acara jalan2 ke Gunung Papandayan, Kab Garut. Namanya aja jalan2 ke gunung, tapi jalan SANTAI saja dari tempat parkir ke Kawah Baru, paling jauh cuma 3 km (pp 6 km), dengan kondisi jalan berbatu kerikil, relatif tidak menanjak. Rutenya dari tempat parkir jalan ke Kawah Baru, pulangnya lewat kawah Emas… Interpreter Budi Brahmantyo dan T. Bachtiar. Untuk informasi hubungi Matabumi: 085624784548.

***

Halaman 1: Ttg Letusan Gunung Papandayan tahun 1772 yang menghancurkan 40 kampung dan menewaskan hampir 3000 orang.

Kota garut, pernah sangat terkenal, sampai2 Charlie Chaplin dua kali berkunjung ke Garut dan menginap di Ngamplang. Pesona Gn Papandayan yang agung, telah membangkitkan keinginan Bandung Vooruit untuk membuat jalan Pangalengan – Perkebunan Sedep – Kawah Gunung Papandayan. Poster lipat ini akan dibagikan kepada peserta Jelajah Geotrek Gunung Papandayan, dan akan dibagikan secara cuma2 bagi yang berminat.

Articles

Gunung Papandayan, “Panenjoan” Bujangga Manik

In Jelajah Geotrek (5)--Kawah Baru--Gunung Papandayan on April 25, 2011 oleh keluargamatabumiindonesia

Minggu, 24 April 2011. Pikiran Rakyat.

BUJANGGA Manik, tohaan, putra mahkota Kerajaan Sunda melakukan pendakian ke Gunung Papandayan dan menuliskan kisah perjalanannya dalam daun lontar. Catatan geografisnya itu tersimpan di Perpustakaan Bodleian, Oxford sejak 1627. Rahib kelana itu menuli:

“…

Mendaki Gunung Papandayan Yang biasa disebut panenjoan. Dari situ kuamati gunung-gunung. Disebut satu per satu di antara semuanya. Yang terlihat kecil dan jauh. Sesuai daya pandang Nusia Larang.

…”

(Catatan Bujangga Manik, dalam J. Noorduyn dan A. Teeuw, 2009). rn*

***

Pada Sabtu (23/4), komunitas Mata Bumi Indonesia memfasilitasi kegiatan Jelajah Geotrek Gunung Papandayan di Kab. Garut. Peserta terdiri atas masyarakat umum yang berminat mendaki Papandayan untuk melihat dari dekat gunung api aktif tersebut.

Menurut ahli gunung api, Syamsul Rizal, Gunung Papandayan dengan ketinggian 2.665 ni di atas permukaan laut (dpl), termasuk tipe gunung api tipe A, yaitu gunung api yang pernah meletus setelah tahun 1600.

Erupsi yang pernah terjadi di Gunung Papandayan tercatat pada tahun 1772 yang menelan 2.951 korban jiwa dan menghancurkan sekitar 40 perkampungan di sekitarnya. Terakhir, gunung api aktif tersebut mengalami erupsi pada 2002 lalu dengan kawasan yang dilanda dampaknya pada radius 2,5 km dengan letupan asap dan abu vulkanik.

Sejak tahun 1772, bentuknya menjadi sumbing, dinding bagian timur lautnya terbuka, melengkung seperti tapal kuda. Tebing tegak itu tingginya antara 50 meter-1oo meter.

Muka gunung mengarah ke timur laut mulai dari Kawah Mas hingga Kampung Cibalong dan Cibodas sebagai hasil pembentukan endapan guguran puing (debris avalanche deposit). Aliran lava mengarah ke Cibeureumgede dan Ciparung-puk yang menjadi aliran menuju Sungai Ci manuk.

Karakter letusan Papandayan tierupa tipe freatik, ketika ledakan didorong oleh uap yang dihasilkan dari tanah yang dingin atau air permukaan yang bersentuhan dengan batuan panas atau magma. Kegiatan freatik umumnya lemah, tetapi cukup eksplosif pada beberapa kasus.

Papandayan sangat diminati pencinta alam terutama karena lokasinya mudah dijangkau. Menurut anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung T. Bachtiar, sesungguhnya Gunung Papandayan meletus de-ngan ciri khasnya, yaitu guguran puing atau longsoran gunung api, tetapi tidak ada yang menyebutnya sebagai Tipe Letusan Papandayan.

Baru ketika terjadi letusan Gunung Bandai di Jepang 1888, yang menunjukkan letusan yang disebabkan oleh tekanan hidrotermal, seperti yang terjadi di Papandayan seabad sebelumnya, dise-butlah Tipe Letusan Bandai.

Jalur yang ditempuh para peserta Geotrek Gunung Papandayan cukup berliku. Mulai dari sambutan jalan berlubang sepanjang 9 km dari arah Kec. Ci-surupan sampai ke lokasi areal Papandayan. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Danau Kawah Baru dengan menyeberangi Sungai Ciparung-puk dan mendaki bebatuan hasil material vulkanik yang menghabiskan waktu sekitar dua jam. Di sela-sela perjalanan, para peserta diajari cara menggambar sketsa geografi oleh entrepreneur (baca: interpreter, MB) Budi Brahmantyo.

Hujan deras dan kabut tebal menghentikan langkah para peserta yang masih menikmati panorama indah Papandayan. Sejatinya, mereka hendak menuju Kawas Mas, tetapi cuaca tidak bersahabat dan akhirnya peserta pun turun gunung. Namun, mereka cukup puas bisa mengenal gunung api aktif dari dekat, sambil memperingati Hari Bumi. (Ririn N.F./”PR”)***

Articles

Ilustrasi Kegiatan Jelajah Geotrek—Kawah Baru—Gunung Papandayan Via Cisurupan, Kabupaten Garut

In Jelajah Geotrek (5)--Kawah Baru--Gunung Papandayan on April 25, 2011 oleh keluargamatabumiindonesia

Pendahuluan

            Ada dua jalur popular yang biasa digunakan wisatawan atau para penggiat alam terbuka, apabila hendak berkunjung ke kawasan Cagar Alam Gunung Papandayan. Pertama, melalui jalur Pangalengan, Kabupaten Bandung. Kedua, melalui jalur Cisurupan, Kabupaten Garut.

Dari pusat kota Bandung, jalur Pangalengan ‘mungkin’ memiliki jarak tempuh yang relatif dekat jika dibandingkan dengan jalur Cisurupan. Hanya saja, aksesibilitas yang kurang baik membuat perjalanan melalui Pangalengan, selain memiliki tingkat tantangan dan resiko tersendiri, pada faktanya bisa memakan waktu yang lebih lama jika dibandingkan dengan melalui jalur Cisurupan, Kabupaten Garut.

Apabila hendak menggunakan jalur Pangalengan ini, umumnya dari Kota Bandung langsung saja melaju ke arah selatan. Misalnya, melalui Jalan Jakarta—Kiaracondong—SAMSAT—Gordon—Baleendah—Banjaran—Pangalengan—PTPN VIII (Malabar-Purbasari-Talun Santosa-Sedep)—batarua—Kampung Papandayan—GBH/Gou Ber Hood—Kawah Gunung Papandayan.

Ayu ‘Kuke’ Wulandari—volunter Komunitas Matabumi Indonesia, membuat catatan-catatan penting berdasarkan hasil survei bersama panitia/fasilitator Matabumi pada 13 April 2011.  “… (1) untuk soal pemandangan sepanjang perjalanan.. c-a-k-e-p!; (2) banyak hal yang bisa dipelajari, relatif kaya morfologi untuk dijadikan bahasan; (3) hijau, pepohonan, bentangan yang tak terusik gedung tinggi, baik untuk mata; (4) rute ini potensial mengajari untuk ramah menyapa, berinteraksi & tersenyum pada penduduk; (5) harus menginap minimal 1 malam, perjalanan PP dalam 1 hari akan sangat melelahkan; (6) tidak disarankan naik motor biasa, minimal motor trail (jangan lepaskan helm & jaket, usahakan gunakan celana panjang, jadi kalau tergelincir jatuh ya bisa relatif aman); mobil pun harus khusus off-road; (7) tidak disarankan bagi siapa pun yang tidak menyukai rute ajrug-ajrugan batu, karena rute batu ini relatif panjang dan konstan (kecuali ketika memasuki perkampungan).”

Sedangkan jika melalui jalur Cisurupan, Kabupaten Garut, walaupun jarak relatif lebih jauh, namun memiliki aksesibilitas yang lebih baik dan waktu tempuh yang lebih cepat. Dari pusat Kota Bandung bisa langsung bergerak ke timur menuju ke Cileunyi—Cicalengka—Lingkar Nagreg—Leles—Garut kota—Cisurupan—kawasan parkir Cagar Alam Gunung Papandayan. Dan pada kesempatan kali ini, dengan berbagai pertimbangan, panitia memutuskan menggunakan jalur ini.

***

            Kegiatan Jelajah Geotrek ke Gunung Papandayan ini merupakan kegiatan ke-5. Setelah kegiatan Jelajah Geotrek Ci Mahi Hulu/Lava Tour (Minggu, 18 Juli 2010). Jelajah Geotrek Kawah Putih—Gunung Patuha (Sabtu, 23 Oktober 2010). Jelajah Geotrek Curug Malela (Sabtu, 18 Desember 2010). Dan Jelajah Geotrek Kaldera Gunung Sunda Purba di kawasan Situ Lembang (Sabtu, 12 Februari 2011).

Kegiatan ke-5

Nama: Jelajah Geotrek Gunung Papandayan

Waktu: Sabtu, 23 April 2011

Jadwal Kegiatan

Waktu Aktifitas Keterangan
06.00-06.30 Kumpul+Kenalan+Informasi Taman Ganesha ITB
06.30-11.00 Perjalanan-Tiba Kawasan Parkir
11.30-12.30 Istirahat+Makan Siang+Sholat Sekitar Areal Parkir
12.30-13.30 Treking+Menafsir+Diskusi Kawah Baru
13.30-14.30 Jalan-jalan+Belajar Sketsa Sekitar Kawah Baru
14.30-15.00 Jalan ke parkiran+Persiapan Pulang Areal Parkir
15.00-15.20 Penutupan Areal Parkir
15.30-20.00 Perjalanan pulang-Tiba di Bandung

 Perlengkapan

  • Mengenakan pakaian lapangan/nyaman buat berjalan-jalan
  • Pakaian ganti
  • Sepatu dan (atau) Sandal lapangan/nyaman
  • Topi
  • Jas hujan/Raincoat
  • Plastik buat salin/elektronik
  • Botol minum
  • Buku catatan
  • Alat dokumentasi
  • Obat pribadi
  • Perlengkapan ibadah
  • Cemilan/makanan ringan
  • Makanan penyelang pagi, siang, sore
  • NB: Sarapan terlebih dahulu

Interpreter dan Tamu

  • Bapak Budi Brahmantyo dan Bapak T. Bachtiar dari Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB)
  • Bapak Momon (Gunung Papandayan) dan Bapak Ade (Gunung Guntur) sebagai Pengamat Gunungapi
  • Bapak Syamsul sebagai Ahli Gunungapi.

Penutup

Berbagai persiapan telah dilakukan. Semoga Tuhan memberikan segala kemudahan. Berharap kegiatan ini bermanfaat, membahagiakan, menambah pengetahuan, perkawanan dan pencerahan hidup. Kami ucapkan terimakasih kepada semuanya. Salam Lestari. Selamat Hari Bumi.

Bandung. Jum’at, 22 April 2011

Hormat Kami,

Panitia/fasilitator Komunitas Matabumi Indonesia

Articles

Keluarga Besar Jelajah Geotrek Papandayan

In Jelajah Geotrek (5)--Kawah Baru--Gunung Papandayan on April 25, 2011 oleh keluargamatabumiindonesia

Panitia

  1.             Gelar Taufiq Kusumawardhana
  2.             Rony Noviansyah
  3.             Rieza Arief Priyandi
  4.             Hasanudin—Jantera
  5.             Andri—Jantera

Interpreter/Penafsir

6.               T. Bachtiar (KRCB dan Masyarakat Geografi Indonesia)

7.              Budi Brahmantyo (KRCB dan Dosen Geologi ITB)

Jurnalis

8.               Iffah—Republika

9.               Ririn—Pikiran Rakyat

10.            Kiki—Galamedia

11.             Adi—Suara Pembaruan

Pakar Gunungapi

12.              Syamsul Rizal (Badan Geologi)

Ahli Lapangan/Pengamat Gunung Api

13.            Momon (Gunung Papandayan)

14.            Ade (Gunung Guntur)

Peserta

15.              Neni Geo Albanjari

16.              Ayu ‘Kuke’ Wulandari

17.              Sri Sundayani

18.              Fakhry

19.             Agus Supriyadi

21.             Diella Dachla

22.              Ramzayatie

23.              Riefka Dachlan

24.              Yongki Sutarjana

25.              Yasa Gunadi

26.              Moro

27.              Respati Mulyanto

28.              Nugraha

29.              Beni Ernanto

30.              Rahman Hikmat

31.              Ninoe Trie

32.              Naura

33.              Jessisca Fam

34.              Sukarna Memed

35.              Odang Dimyati

36.              Danni Gathot Harbowo

37.              Aldin Meidani

38.              Ogi

39.              Iqbal Maulana Ahmad

40.              Herwin Permadi

41.              Rudi Permadi

42.              Jedi Permadi

43.              Tarlen Handayani

44.              Aryani Murcahyani

45.              Dr. Dadang

46.              Istri Dr. Dadang

47.              Yudi Wildan

48.              Sieling

49.              Adrian Permana Zen

50.              Nanang Cahyana

51.              Iromaza Hufiena

52.              Nissa

53.              Arief Muchsinin

54.              Ierza Yayan

55.              Jajang Sujana

56.              Fitri Sosianingsih

57.              Suami bu Fitri Sosianingsih

58.              Mipi

59.              Rina

60.              Kautsar

61.              Kayla

62.              Asistennya Jeff

Articles

Papandayan

In Jelajah Geotrek (5)--Kawah Baru--Gunung Papandayan on April 25, 2011 oleh keluargamatabumiindonesia

tianggangna rasa kasono teu bisa dihulag meuweuh maceuh mageuhan niat…

ilang karempan teuneung ludeung nyangharepan papagon

neang kacinta nu disidem

papandayan… cinta munggaran…amprok jonghok lain na impian

kabagja ngahariring marengan halimun nu ngabageakeun

najan angger  dipindingan ku misteri….

papandayan anteb ngahudang tresna

pulas kulawu ngadingding ngahias tebing tohaga ngabadega nuwuhkeun galura rasa getering ati

nyosok jero ka lengkob hate teu pukah ku geuneukna langit nu ngembeng ku cipanon

“panenjoan” ngaguliksek lantis nataan implengan nu moal reureuh ku ngagarajagna kesang kameumeut,

beuki pogot ngungkug ngalengkah na padataran tapal kuda dipirig sajarah  ngaguruhna dingding tohaga beulah wetan ambrug kaseungeut amarah lemah

papandayan ngaraksuk sukma…

anjog ka pangharepan

talaga hejo kawah kadeudeuh nganti lungguh  ngahiap deudeuh…

seungitna balerang ngagupay rasa ngubaran lara nyacapkeun kasono nu moal laas ku jaman

papandayan…tepung sakoteap…langit nu tadi ngembeng ngagarajag ngamalirkeun harewos wilujeung kantun

(Neni Geo Albanjari/Minggu, 24 April 2011)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.