Articles

Gunung Papandayan, “Panenjoan” Bujangga Manik

In Jelajah Geotrek (5)--Kawah Baru--Gunung Papandayan on April 25, 2011 by keluargamatabumiindonesia

Minggu, 24 April 2011. Pikiran Rakyat.

BUJANGGA Manik, tohaan, putra mahkota Kerajaan Sunda melakukan pendakian ke Gunung Papandayan dan menuliskan kisah perjalanannya dalam daun lontar. Catatan geografisnya itu tersimpan di Perpustakaan Bodleian, Oxford sejak 1627. Rahib kelana itu menuli:

“…

Mendaki Gunung Papandayan Yang biasa disebut panenjoan. Dari situ kuamati gunung-gunung. Disebut satu per satu di antara semuanya. Yang terlihat kecil dan jauh. Sesuai daya pandang Nusia Larang.

…”

(Catatan Bujangga Manik, dalam J. Noorduyn dan A. Teeuw, 2009). rn*

***

Pada Sabtu (23/4), komunitas Mata Bumi Indonesia memfasilitasi kegiatan Jelajah Geotrek Gunung Papandayan di Kab. Garut. Peserta terdiri atas masyarakat umum yang berminat mendaki Papandayan untuk melihat dari dekat gunung api aktif tersebut.

Menurut ahli gunung api, Syamsul Rizal, Gunung Papandayan dengan ketinggian 2.665 ni di atas permukaan laut (dpl), termasuk tipe gunung api tipe A, yaitu gunung api yang pernah meletus setelah tahun 1600.

Erupsi yang pernah terjadi di Gunung Papandayan tercatat pada tahun 1772 yang menelan 2.951 korban jiwa dan menghancurkan sekitar 40 perkampungan di sekitarnya. Terakhir, gunung api aktif tersebut mengalami erupsi pada 2002 lalu dengan kawasan yang dilanda dampaknya pada radius 2,5 km dengan letupan asap dan abu vulkanik.

Sejak tahun 1772, bentuknya menjadi sumbing, dinding bagian timur lautnya terbuka, melengkung seperti tapal kuda. Tebing tegak itu tingginya antara 50 meter-1oo meter.

Muka gunung mengarah ke timur laut mulai dari Kawah Mas hingga Kampung Cibalong dan Cibodas sebagai hasil pembentukan endapan guguran puing (debris avalanche deposit). Aliran lava mengarah ke Cibeureumgede dan Ciparung-puk yang menjadi aliran menuju Sungai Ci manuk.

Karakter letusan Papandayan tierupa tipe freatik, ketika ledakan didorong oleh uap yang dihasilkan dari tanah yang dingin atau air permukaan yang bersentuhan dengan batuan panas atau magma. Kegiatan freatik umumnya lemah, tetapi cukup eksplosif pada beberapa kasus.

Papandayan sangat diminati pencinta alam terutama karena lokasinya mudah dijangkau. Menurut anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung T. Bachtiar, sesungguhnya Gunung Papandayan meletus de-ngan ciri khasnya, yaitu guguran puing atau longsoran gunung api, tetapi tidak ada yang menyebutnya sebagai Tipe Letusan Papandayan.

Baru ketika terjadi letusan Gunung Bandai di Jepang 1888, yang menunjukkan letusan yang disebabkan oleh tekanan hidrotermal, seperti yang terjadi di Papandayan seabad sebelumnya, dise-butlah Tipe Letusan Bandai.

Jalur yang ditempuh para peserta Geotrek Gunung Papandayan cukup berliku. Mulai dari sambutan jalan berlubang sepanjang 9 km dari arah Kec. Ci-surupan sampai ke lokasi areal Papandayan. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Danau Kawah Baru dengan menyeberangi Sungai Ciparung-puk dan mendaki bebatuan hasil material vulkanik yang menghabiskan waktu sekitar dua jam. Di sela-sela perjalanan, para peserta diajari cara menggambar sketsa geografi oleh entrepreneur (baca: interpreter, MB) Budi Brahmantyo.

Hujan deras dan kabut tebal menghentikan langkah para peserta yang masih menikmati panorama indah Papandayan. Sejatinya, mereka hendak menuju Kawas Mas, tetapi cuaca tidak bersahabat dan akhirnya peserta pun turun gunung. Namun, mereka cukup puas bisa mengenal gunung api aktif dari dekat, sambil memperingati Hari Bumi. (Ririn N.F./”PR”)***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: